|
|
|
|
 | | Menyiasati Kelemahan Pola Makan Vegetarian |
| Dikirim oleh : Frans (2006-10-31 11:07:20) |
 Banyak alasan yang menggiring orang untuk sampai pada keputusan: menjadi vegetarian. Ada yang karena alasan kesehatan, terbiasa sejak kecil tidak makan daging, keyakinan tertentu, atau bagian dari gaya hidup.
Di antara sejumlah orang yang memilih hidup sebagai vegetarian, Lia adalah salah satunya. Wanita berusia 35 tahun ini, sudah lima tahun terakhir menjadi vegetarian. ''Aku ingin lebih sehat,'' kata Lia menyebut alasannya menjadi vegetarian. Memang, setelah beberapa lama menjadi vegetarian, Lia merasa lebih bugar dibanding sebelum menjadi vegetarian. Namun, sejak dua minggu lalu, ia merasa badannya lemas dan pusing. Dia lalu periksa ke dokter.
Menurut dokter, ia menderita anemia (kurang darah). Untuk memastikannya, dokter menyarankan untuk periksa ke laboratorium guna mengecek kadar Hb (haemoglobin). Ternyata kadar Hb Lia rendah.
Pada dasarnya, pola makan vegetarian adalah satu pengaturan makan yang baik. Seperti dijelaskan oleh Retno Pangestuti DCN MKes, ahli gizi dari Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta, ada tiga jenis vegetarian yaitu:
* Vegetarian murni (pure vegetarian).
Penganut vegetarian jenis ini tidak mengonsumsi protein atau lauk dari hewani.
* Lakto vegetarian.
Masih mengonsumsi susu, sebab susu mereka anggap bukan termasuk daging.
* Ovo-lakto vegetarian.
Masih mengonsumsi susu dan telur. Mereka hanya tidak mengonsumsi daging berwarna merah.
Menurut Retno, pola makan vegetarian dianjurkan bagi orang-orang yang menderita dislipidemia atau hiperkolesterol. Namun, tentunya cara pengolahan makanan mesti diperhatikan. ''Misalnya saja, ia selalu makan tahu dan tempe dengan cara digoreng, lalu kerap mengonsumsi sumber lemak nabati misalnya santan, ya hal itu sama mendongkrak kolesterol,'' kata Retno.
Memang, sejatinya, kolesterol hanya berasal dari bahan pangan hewani. Namun, asupan jenis lemak dari tumbuh-tumbuhan seperti santan, juga bisa mempengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh. Jadi, bagaimana sebaiknya? Dalam sekali makan, kata Retno, sebaiknya dia tidak mencampur antara minyak dengan santan. Artinya, kalau lauk sudah digoreng atau diolah dengan minyak, maka sayurnya sebaiknya tidak menggunakan santan. ''Kalau menerapkan prinsip seperti ini, maka orang itu akan lebih aman terjadinya dislipidemia.''
Selain baik untuk penderita dislipidemia dan kolesterol, pola makan vegetarian juga akan membuat penganutnya mendapat asupan berbagai jenis vitamin dalam kadar yang cukup tinggi. Sebut saja misalnya vitamin A, B, C. Bukan rahasia lagi, di dalam tubuh vitamin-vitamin itu berperan sebagai antioksidan. Itu sebabnya, kulit seorang penganut vegetarian umumnya lebih segar.
Punya kekurangan
Hanya saja, pola makan vegetarian bukan tak memiliki kekurangan. Salah satunya, seperti pernah dikatakan oleh Dr Hardinsyah, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), beberapa waktu lampau, penganut pola makan vegetarian cenderung kekurangan seng (zinc). Namun, ini bisa diatasi dengan cara banyak mengonsumsi kacang-kacangan dan produk-produk dari kedelai. Selain kekurangan seng, penganut vegetarian juga terancam kekurangan vitamin B-12 yang banyak terdapat pada bahan pangan hewani seperti ikan, susu dan produk-produk turunannya, telur, serta daging. Menurut Hardinsyah, kekurangan vitamin B-12 bisa diatasi dengan banyak makan tempe. ''Penelitian terakhir membuktikan bahwa makanan hasil fermentasi seperti tempe banyak mengandung vitamin ini (B-12).''
Ditambahkan oleh Retno, penganut vegetarian juga lebih rentan mengalami anemia. Mengapa demikian? Sebab, penganut vegetarian umumnya hanya mengonsumsi protein nabati. Padahal, nilai biologi dari protein nabati ini lebih rendah dibanding protein hewani. ''Maksudnya nilai biologi di sini adalah, di dalam tubuh, protein hewani akan menghasilkan manfaat yang lebih banyak dibandingkan dengan protein dari nabati,'' jelas Retno.
Karena asupan protein hewani yang kurang itulah, seorang penganut vegetarian lebih rentan terhadap anemia. Adapun gejala anemia adalah cepat lelah, pusing, berkunang-kunang, dan tampak pucat. Jika seorang penganut vegetarian menderita anemia, maka dia harus berusaha meningkatkan asupan proteinnya. Caranya, konsumsilah suplemen untuk meningkatkan asupan Fe (zat besi). Ini dilakukan jika ia memang tidak bisa atau tidak memungkinkan mendapat asupan zat besi secara alami. ''Harapannya, bila zat besi meningkat, kadar Hb-nya juga meningkat, sehingga anemianya bisa teratasi.'' Terkadang, pada penganut vegetarian yang menderita anemia, Retno juga bertanya,''Mungkin nggak, Anda menjadi lakto vegetarian?''
Pertimbangannya, kata Retno, dengan menjadi lakto vegetarian maka orang itu masih bisa makan telur yang bisa meningkatkan kadar Hb. ''Memang, sebagian orang mengatakan bahwa sumber zat besi tidak cuma dari protein hewani saja, tapi bisa juga dari sayuran. Tapi bagaimanapun, kandungan zat besi pada sayuran, tidak sebanyak yang ada dalam protein hewani,'' tutur penanggungjawab klinik gizi RS Dr Sardjito ini.
Lebih jauh Retno menjelaskan, kandungan protein nabati yang tertinggi ada dalam kacang-kacangan seperti tempe dan tahu. Selain memberikan asupan protein, kacang-kacangan juga merupakan sumber kalsium. Sekadar gambaran, untuk setiap 100 gram kacang tanah, mengandung 730 miligram kalsium. Sementara kacang kedelai, untuk setiap 100 gram, mengandung 227 miligram kalsium.
Dengan begitu, penganut vegetarian tak perlu merisaukan soal pemenuhan kalsium, apalagi bagi penganut lakto vegetarian yang masih mengonsumsi susu dan hasil olahannya.
(nri )
sumber : Republika |
KIRIM KOMENTAR
|
BACA KOMENTAR (3)
|
|
|