CARI :
Artikel yang berhubungan dengan vegetarianKumpulan resep vegetarian yang pastinya pantas untuk dicoba..
 
  Email :  
  Password :  
   
 
September 2010
MgSnSeRaKmJmSa
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
 
Ketika Aku Menjadi Vegeter
Dikirim oleh : DIDI (2010-03-15 10:03:12)

Tak terbayangkan bagi saya, bila saya akan menjadi seorang vegeter(orang vegetarian). Tapi kenyataannya saya sudah duabelas tahun menjadi seorang vegetarian.

saya mengawali belajar vegetarian saat Ibu saya menjadi seorang vegeter di salah satu vihara di Jakarta.
Awalnya kami merasa terpaksa untuk menjalani kehidupan sebagai vegeter, namun apa boleh buat, sebab tiap hari ibu memasak sayuran serta bahan makanan tak berjiwa.

Pikiran kami saat itu ialah daripada lapar, lebih baik ya kami makan saja. Tak ada terpikir bagi saya untuk menolak makanan itu, dan tak terpikir pula oleh kami bahwa kami perlahan membantu pencegahan pemanasan global.

Setelah dua tahun belajar vegetarian, di tahun 1999, ibu meminta ijin kepada seorang pendeta Buddhist untuk mendirikan cetya kecil di rumah. Tekad itu pun mendapat dukung, sebab beliau melihat bahwa kami sekeluarga telah bervegetarian.

Nah, saat upacara pendirian cetya itulah, saya dan ayah berikrar untuk menjalani kehidupan sebagai vegeter.

Sejak menjadi vegeter, perlahan namun pasti, kami merasakan perbedaan dalam hidup. Secara harafiah, kami bisa mengendalikan berarat tubuh dan mengurangi dampak penyakit berbahaya. Apalagi ayahku, sejak menjadi vegeter, ayah sering kali terselamatkan dari penyakit berbahaya. Saat terjadi stroke, ayahku hanya muntah ringan tanpa gejala yang menghawatirkan. Akhirnya sapai saat ini hanya lemah saat berjalan. Manfaat ini hanyalah sebagian kecil dari berjuta bahkan milyaran manfaat bervegetarian.

Sementara bila dilihat dari segi roniah, kami pun menjadi lebih bertakwa, emosi dapat diredam dan menjalani hidup dalam kondisi bathin yang nyaman tanpa merasa bersalah pada makhluk hidup lain.

Kini memasuki tahun ke 12 saya bervegetarian, tentu terdapat banyak kendala yang terjadi. Pemikiran untuk menyantap hidangan berjiwa pun sering menghantui saya. Apalagi pekerjaan saya yang menuntut saya untuk bekerja di lapangan. Sehingga tak mudah menemukan makanan vegetarian.

Menghadapi situasi semacam itu, tak membuat saya menyesali langkah menjadi vegeter. Saya justru dilatih untuk makin kreatif memanfaatkan sesuatu yang dapat dimakan. Teringat saat itu, kami liputan ke Surabaya. Saat itu saya benar-benar terlepas dari masakan ibu yang selalu matang saat perut ini lapar. Namun saya tak putus asa. Saya lihat dan amati sepanjang jalan yang kami lalui untuk menemukan makanan yang berunsur vegetarian.

Setibanya di hotel, saya melihat di ujung jalan sampin hotel, ada pedagang makanan semacam serabi yang berwarna coklat. Karena lapar, Saya dekati ibu itu lalu bertanya seputar bahan pembuat serabi itu. ternyata, bahan yang digunakan tak lain hanyalah tepun beras, gula, kelapa dan air kelapa.

Mendengar penjelasan sang empunya jualan, tanpa ragu mendorong saya untuk membelinya, wah murah sih, 500 rupiah. ehm, nikmat. cukup menggangjal perut saya yang tambun ini.

Demikian kisah itu berulang selama 14 hari di luarkota.

Menyadari akan hal itu, saya bersyukur dapat bervegetarian. memang tak mudah pada awalnya, namun bila sudah dilakukan maka tak ada kesulitan berarti yang tak bisa dilakukan.

KIRIM KOMENTAR | BACA KOMENTAR (3)
 
(C) 2006 vegetarian.web.id - Hak Cipta dilindungi undang-undang | Aturan & Layanan | Kontak